Gotong Royong di Jantung Kalondama Mahasiswa dan Warga Bahu-Membahu Potong Kebun
Kalondama, 05 Agustus 2026. Hari itu menandai dimulainya kegiatan kedua dari rangkaian program pengabdian mahasiswa di wilayah tersebut. Agenda kali ini sangat lekat dengan urat nadi kehidupan masyarakat setempat, potong kebun sebuah tradisi gotong royong membersihkan dan membuka lahan pertanian baru. Bagi para mahasiswa, aktivitas ini bukan sekadar menjalankan program kerja, melainkan sebuah proses "jatuh hati" pada kehidupan masyarakat yang sesungguhnya. Berbekal parang, dan semangat yang menyala, mereka berjalan beriringan dengan para petani, orang tua, hingga pemuda desa menuju lokasi kebun yang terletak di lereng bukit.Sesampainya di lokasi, suasana kebersamaan langsung terasa kental. Tanpa ada sekat pemisah antara "pendatang" dan "pribumi", semua membaur menjadi satu. Suara tebasan parang yang beradu dengan semak belukar dan pepohonan liar mulai bersahutan, menjadi ritme kerja yang harmonis. Mahasiswa yang awalnya canggung memegang alat pertanian, perlahan mulai terbiasa berkat bimbingan sabar dari warga desa. Tawa renyah dan candaan khas daerah sesekali pecah, mengusir rasa lelah di bawah sengatan matahari yang mulai meninggi. Kegiatan kedua ini menjadi ruang belajar yang hidup. Sembari tangan terus bekerja, telinga para mahasiswa mendengarkan kisah-kisah kearifan lokal tentang sistem pertanian tradisional, cara menjaga kesuburan tanah, hingga pentingnya menjaga hutan adat. Warga dengan sukacita membagikan pengetahuan mereka, sementara mahasiswa memberikan asupan energi lewat semangat muda dan obrolan yang menghibur. Menjelang siang, keringat yang bercucuran terbayar lunas saat bentangan lahan yang tadinya rimbun kini telah bersih dan siap untuk proses penanaman berikutnya. Momen puncak kebersamaan ditutup dengan makan siang bersama di pinggir kebun. Semuanya duduk melingkar di tanah dan hidangan sederhana hasil bumi Kalondama terasa begitu nikmat karena disantap di atas fondasi kebersamaan. Melalui kegiatan potong kebun ini, mahasiswa tidak hanya membantu meringankan pekerjaan fisik warga. Lebih dari itu, mereka telah memotong jarak sosial, menyiangi kecanggungan, dan menanam benih kekeluargaan yang mendalam bersama masyarakat Kalondama.