01 September 2026 KPM Wolwal Selatan

Pelepasan Mahasiswa KBPM Wolwal Selatan & Pengantaran ke Kampus UNTTRIB

Suasana haru menyelimuti halaman Kantor Desa Wolwal Selatan pada hari itu. Momen perpisahan yang tak terelakkan akhirnya tiba — masa pengabdian mahasiswa KBPM UNTTRIB 2026 di tanah ini telah usai. Dengan hati yang penuh kenangan dan rasa syukur, para mahasiswa bersiap melangkah pergi, membawa serta kasih sayang dan doa dari seluruh warga desa.

 

Acara pelepasan berlangsung sederhana namun begitu menyentuh. Bapak Kepala Desa, didampingi para aparat desa, hadir bukan hanya untuk melepas, tetapi langsung menyempatkan diri untuk mengantar para mahasiswa kembali ke kampus UNTTRIB — sebuah perhatian tulus yang menjadi bukti betapa eratnya ikatan yang telah terjalin selama ini.

 

Di hadapan semua orang, Bapak Kepala Desa menyampaikan pesan yang begitu dalam, terukir di hati setiap insan yang mendengarnya:

 

"Yang manis sekali belum tentu manis, yang pahit sekali belum tentu pahit. Artinya, sesuatu yang baik sekali belum tentu sepenuhnya baik, dan sesuatu yang terlihat tidak baik sekali pun belum tentu sepenuhnya tidak baik. Setiap hal, pasti ada hikmahnya — baik maupun tidak baik, semuanya pasti ada makna di baliknya. Maka dari itu, tetaplah bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan kepada kita."

 

Kata-kata itu bukan sekadar nasihat, melainkan pelajaran hidup yang dibagikan dengan tulus — mengajarkan untuk melihat segala sesuatu dengan hati yang luas, percaya bahwa di balik setiap peristiwa, Tuhan sedang merangkai rencana yang indah.

 

Kendaraan pun akhirnya bergerak meninggalkan Wolwal Selatan. Melalui perjalanan itu, Bapak Kepala Desa dan aparat desa mengantar para mahasiswa, bukan sekadar ke tempat tujuan, melainkan menyerahkan mereka kembali ke perjalanan hidup dengan harapan dan doa yang tak putus. Para mahasiswa menatap ke luar jendela, menyimpan pesan itu rapat-rapat di hati — bahwa di mana pun mereka berada, di saat manis maupun pahit, syukur dan iman adalah penuntun setia.

 

Wolwal Selatan bukan sekadar tempat pengabdian berakhir, melainkan rumah kedua yang memberi pelajaran paling berharga. Raga mungkin berpisah, namun hati dan pesan itu akan tetap abadi, terus hidup dalam setiap langkah ke depan.